Rabu, 14 November 2012

BAHASA, TEKS,KONTEKS, DAN KO-TEKS


BAHASA, TEKS, KONTEKS, DAN KO-TEKS



DISUSUN OLEH:
AYU BRAMITHA D. B.
AMELIA RAHAYU
RATIH ADE LESTARI


DOSEN PENGAMPU:
Dra. Ngudining Rahayu,M.Hum.


PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT. bahwa penulis telah menyelesaikan tugas mata kuliah wacana bahasa indonesia dengan membahas  BAHASA, TEKS, KONTEKS, DAN KO-TEKS dalam bentuk makalah.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan ibu Ngudining Rahayu selaku dosen pengampu , sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi.
Semoga materi ini dapat bermanfaat dan menjadi sumbangan pemikiran bagi pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penulis sehingga tujuan yang diharapkan dapat tercapai, Amiin.


                                                                                                Bengkulu, 02 November 2012


                                                                                                                        Penulis








DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
a.    Latar Belakang
b.    Rumusan Masalah
c.    Tujuan
BAB II PEMBAHASAN
a.    Tentang Bahasa
b.    Tentang Teks
c.    Tentang Konteks
d.    Tentang Ko-Teks
BAB III PENUTUP
a.    Kesimpulan
b.    Saran
DAFTAR PUSTAKA









BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
wacana merupakan unit kebahasaan yang lebih besar dari pada kalimat dan klausa dan mempunyai hubungan antara unit kebahasaan yang satu dengan yang lain. Atau dengan kata lain, wacana merupakan satuan bahasa terlengkap; dalam hirarki gramatikal tertinggi atau terbesar. Wacana ini direalisasikan dalam bentuk wacana yang utuh.
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri. Teks adalah bahasa yang berfungsi, maksudnya adalah bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu (menyampaikan pesan atau informasi) dalam konteks situasi, berlainan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat lepas yang mungkin dituliskan di papan tulis. Konteks adalah sesuatu yang menyertai atau yang bersama teks. Secara garis besar, konteks wacana dibedakan atas dua kategori, yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik.
Maka, dalam makalah ini akan dibahas lebih mendalam mengenai bahasa, teks, konteks, dan ko-teks.

B.   Rumusan Masalah
1.    Apa itu bahasa?
2.    Apa itu teks?
3.    Apa itu konteks?
4.    Apa itu ko-teks?

C.   Tujuan
Tujuan dari makalah ini ialah, penulis ingin menyelesaikan tugas dari mata kuliah Wacana Bahasa Indonesia, dan penulis berharap makalah ini mampu membuat kita memahami dan mengklasifikasi antara bahasa, teks, konteks, dan ko-teks dengan benar dan tepat.



BAB II
PEMBAHASAN
A.   Tentang Bahasa
Kata bahasa dalam bahasa indonesia memiliki lebih dari satu makna atau pengertian, sehingga sering kali membinggungkan. Menurut Kridalaksana Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang digunakan oleh para anggota kelompok sosial untuk bekerja sama, berkomunikasi, dan mengidentifikasi diri.
1.    Hakikat bahasa
Dari definisi Kridalaksana mengenai bahasa di atas maka dapat dibutiri menjadi beberapa ciri atau sifat yaitu (1) Bahasa itu adalah sebuah sistem, (2) bahasa itu berwujud lambang, (3) bahasa berupa bunyi, (4) bahasa itu bersifat arbitrer, (5) bahasa itu bermakna,  (6) bahasa itu bersifat konvensional, (7) bahasa itu bersifst unik, (8) bahasa itu bersifat universal, (9) bahasa itu bersifat produktif, (10) bahasa itu bervariasi, (11) bahasa itu bersifat dinamis, (12) bahasa itu berfungsi sebagai alat interaksi sosial, dan (13) bahasa itu merupakan identitas penuturnya.
2.    Klasifikasi Bahasa
Suatu klasifikasi yang baik harus memenuhi persyaratan nonarbitrer, ekshaustik, dan unik. Yang dimaksud dengan nonarbitrer adalah bahwa kriteria klasifikasi itu boleh semaunya, hanya harus ada satu kriteria. Tidak boleh ada kriteria lainnya. Dengan kriteria yang hanya satu ini, yang nonarbitrer, maka hasilnya akan ekshauistik. Artinya, setelah klasifikasi dilakukan tidak ada lagi sisanya; semua bahasa yang ada dapat masuk ke dalam salah satu kelompok. Selain itu, hasil klasifiksai juga harus bersifat unik. Maksudnya, kalau suatu bahasa sudah masuk ke dalam salah satu kelompok., dia tidak bisa masuk lagi dalam kelompok yang lain.
Yang terpenting yang bisa disebutkan disini adalah satu pendekatan genetis, pendekatan tipologis, pendekatan areal, dan pendekatan sosiolonguistik. Pendekatan genetis hanya melihat garis keturunan bahasa itu; hasilnya disebut klasifikasi genetis atau geneologis. Pendekatan tipologis mengunakan kesamaan-kesamaan tipologi, entah fonologi, morfologi, maupun sintaksis untuk membuat klasifikasi. Hasilnya disebut klasifikasi tipologis. Pendekatan areal menggunakan pengaruh timbal balik antara suatu bahasa dengan bahasa yang lain untuk membuat klasifikasi. Hasilnya disebut klasifikasi areal. Sedangkan pendekatan sosiolinguistik membuat klasifikasi berdasarkan hubungan bahasa itu dengan keadaan masyarakat. Hasilnya disebut klasifikasi sosiolinguistik.

B.     Tentang Teks
Teks adalah bahasa yang berfungsi, maksudnya adalah bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu (menyampaikan pesan atau informasi) dalam konteks situasi, berlainan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat lepas yang mungkin dituliskan di papan tulis. Bentuknya bisa percakapan dan tulisan (bentuk-bentuk yang kita gunakan untuk menyatakan apa saja yang kita pikirkan). Hal penting mengenai sifat teks ialah bahwa meskipun teks itu bila kita tuliskan tampak seakan-akan terdiri dari kata-kata dan kalimat, namun sesungguhnya terdiri dari makna-makna. Memang makna-makna atau maksud yang ingin kita sampaikan kepada orang lain haruslah dikodekan dalam tuturan lisan atau kalimat-kalimat supaya dapat dikomunikasikan.
Teks merupakan produk, dalam arti bahwa teks itu merupakan keluaran (output) ; sesuatu yang dapat direkam atau dipelajari (berwujud). Teks juga merupakan proses, dalam arti merupakan proses pemilihan makna yang terus-menerus, maksudnya ketika kita menerima atau memberi informasi dalam bentuk teks (lisan atau tulis) maka tentunya di dalam otak kita terjadi proses pemahaman (pemilihan makna) terhadap informasi tersebut, jangan sampai terjadi kesalahpahaman. Adapun kriteria teks sebagai berikut:
 Kriteria yang bersifat internal teks:
·         Kohesi: kesatuan makna
·         Koherensi: kepaduan kalimat (keterkaitan antarkalimat)
Kriteria yang bersifat eksternal teks:
·         Intertekstualitas: setiap teks saling berkaitan secara sinkronis atau diakronis.
·         Intensionalitas: cara-cara atau usaha-usaha untuk menyampaikan maksud atau pesan pembicaraan melalui sikap bicara, intonasi, dan ekspresi wajah. Intensionalitas berkaitan dengan akseptabilitas (penerimaan informasi).
·         Informativitas: kuantitas dan kualitas informasi.
·         Situasionalitas: situasi tuturan.
C.   Tentang Konteks
Konteks adalah sesuatu yang menyertai atau yang bersama teks. Secara garis besar, konteks wacana dibedakan atas dua kategori, yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik. Konteks linguistik adalah konteks yang berupa unsur-unsur bahasa. Konteks linguistik itu mencakup penyebutan kata depan, kata sifat, kata kerja, kata kerja bantu, dan proposisi positif. Konteks ekstralinguistik adalah konteks yang bukan berupa unsur-unsur bahasa. Konteks ekstralinguistik itu mencakup praanggapan, partisipan, topik atau kerangka topik, latar, saluran, dan kode. Partisipan adalah pelaku atau orang yang berpartisipasi dalam peristiwa komunikasi berbahasa. Partisipan mencakup penutur, mitra tutur. dan pendengar. Latar adalah tempat dan waktu serta peristiwa beradanya komunikasi. Saluran adalah ragam bahasa dan sarana yang digunakan dalam penggunaan wacana. Kode adalah bahasa atau dialek yang digunakan dalam wacana. Halliday dan Hasan (1992: 14) menandai konteks bahasa / koteks itu sebagai konteks internal wacana (internal discourse context) sedangkan segala sesuatu yang melingkupi wacana, baik konteks situasi maupun konteks budaya sebagai konteks eksternal wacana(external discourse contex). Senada dengan uraian di atas, Saragih dalam Persfektif LFS (2006: 4), juga memaparkan bahwa konteks merupakan wahana terbentuknya teks. Tidak ada teks tanpa konteks. Konteks mengacu pada segala sesuatu yang mendampingi teks.
Menurut Kridalaksana, konteks merupakan ciri-ciri alam di luar bahasa; lingkungan/ situasi tuturan berlangsung yang menumbuhkan makna pada ujaran; lingkungan nonlinguistik dari wacana. Menurut Moelyono dan Soenjono, konteks wacana dibentuk oleh berbagai unsur, seperti situasi, pembicara, pendengar, waktu, tempat, adegan, topik, peristiwa, bentuk, amanat, dan kode. Unsur-unsur itu berhubungan pula dengan unsur-unsur yang terdapat dalam setiap komunikasi bahasa, antara lain:
Latar : tempat dan waktu terjadinya percakapan.
Peserta : peserta percakapan yakni pembicara (penyapa) dan pendengar (pesapa).
Hasil : hasil dan tujuan percakapan.
Amanat: bentuk dan isi amanat.
Cara : cara percakapan dilakukan, dengan semangat, santai atau tergesa-gesa.
 Sarana : penggunaan bahasa lisan atau tulis; variasi bahasa yang digunakan.
Norma : perilaku peserta percakapan.
Jenis : mengacu pada kategori seperti sajak, teka-teki, kuliah, dan doa.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa konteks adalah segala sesuatu yang melingkupi teks. Teks dan konteks merupakan sesuatu yang selalu berkaitan dan tidak dapat dipisahkan. Makna yang terealisasi dalam teks merupakan hasil interaksi pemakai bahasa dengan konteksnya, sehingga konteks merupakan wacana terbentuknya teks.
Macam-Macam Konteks
Secara garis besar konteks dapat dipilih menjadi dua kategori , yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik.
1.    Konteks linguistik
Konteks linguistik merupakan konteks wacana atau lingkungan wacana yang berupa unsur bahasa yang mencakup:
a.    Penyebutan depan.
Penyebutan depan adalah lingkungan linguistik yang berupa bagian wacana yang disebut terdahulu <perior-mention> sebelum bagian teks yang lain. Dari penyebutan itulah status sebuah acuan <suatu yang dimaksudkan> dapat terwujud dan dapat dikenali.
b.    Sifat kata kerja.
Kata kerja digolongkan menjadi dua macam yaitu generik dan tak generik. Kata kerja generik adalah kata kerja yang penggeraknya tidak dapat menjadi informasi lama , yakni informasi yang tidak dapat disebut kembali dengan pemerkah definisi ini dan itu. Sedangkan kata kerja tak generik yakni bendayang mengikutinya dapat diikuti objek dan objeknya dapat disebut kembali dengan pemerkah definisi ini dan itu.
c.    Kata kerja konteks.
Kata kerja konteks adalah kata kerja yang ditambahkan pada kata kerja utama. Ada kata bantu ...... <yang menunjukan sikap batin : harus,pasti,mungkin,ingin,suka,mau dan sebagainya> sedangkan kata kerja bantu aspek <yang menunjukan keberlangsungan kerja,sudah,akan,belum,baru dan sebagainya>.
d.    Proposisi positif.
Secara sederhana proposisi dapat diartikan sebagai pertanyaan secara teknis dapat diartikan sebagai konfigurasi makna yang terjadi dari hubungan antara unsur sabjek dan predikat serta unsur-unsur yang lain dalam klausa atau kalimat atau apa yang dikemukakan oleh penutur/penulis, atau tentang apa yang terungkap dalam sebuah teks wacana.
2.    Konteks ekstra linguistik
Macam-macam konteks ekstra linguistik yaitu :
a.    Peranggapan
Peranggapan adalah ungkapan yang sudah ada yang menjadi syarat bagi benar salah satunya suatu kalimat . peranggapan itu merupakan (pengetahuan) landasan bersama (camman ground) bagi pengguna bahasa. Stalnaker (Brown dan yule 1983) menyatakan bahwa peranggapan adalah apa yang dimiliki untuk dijadikan landasan bersama partisipasi dalam komunikasi verbal.
b.    Partisipasi
Partisipasi adalah orang yang berpartisipasi dalam peristiwa itu. Semua pelaku yang partisipasi pada peristiwa itu disebut partisipan.
c.    Topik dan kerangka topik
Topik adalah pokok isi sebuah wacana. Topik dalam sebuah wacana dapat dikenali dengan pertanyaan, tentang apa yang di kemukakan oleh penutur/penulis, atau tentang apa yang terungkap dalam sebuah teks wacana. Topik merupakan pengikat satuan-satuan teks pembentuk wacana. Kalimat dalam teks juga harus berisi informasi yang relevan dengan topik.
Dengan menggunakan topik tertentu suatu interaksi dapat berjalan dengan lancar. Namun dalam kehidupan sehari-hari apa yang disebut dengan topik sangat kompleks sehingga para ahli wacana menamakannya dengan kerangka topik.
Kerangka topik adalah topik besar atau topik atasan yang meliputi sejumlah topik bawahan. Jadi, istilah topik dan kerangka topik diberlakukan manakala dalam teks terdapat topik atasan dan topik bawahan.
d.    Latar
Latar (seting) adalah konteks kewacanaan yang berupa tempat, waktu dan peristiwa. Konteks tersebut sangat berpengaruh dalam penggunaan satuan unsur wacana. Sebuah peristiwa berpengaruh dalam penggunaan tuturan dalam wacana. Dalam peristiwa kecelakaan biasanya akan muncul kalimat-kalimat :
Apkah ada yang meninggal?
Siapa yang bersalah?
Bagian yang ditanyakan juga bermacam-macam, bergantung pada perhatian penutur.
e.    Saluran komunikasi
Lisan dan tulis itu merupakan saluran bahasa. Disamping itu bahasa juga digunakan secara langsung (tanpa sarana/alat) atau juga secara tidak langsung(dengan sarana/alat) dalam bahasa tulis, unsur isi diuyngkapkan lebih lengkap daripada bahasa lisan.
f.     Kode
Istilah kode digunakan dalam model ini dengan pengertian bahasa atau dialek beserta ragam-ragamnya : ragam baku, ragam resmi, ragam akrab, ragam intim.
Anda tentu bersikap dengan kesungguhan ketika anda mengikuti acara doa dituturkan dengan ragam resmi, bahkan ada yang menggunakan ragam baku bahkan ragam yang tidak dapat diubah. Anda sebagai peserta doa, lebih sering diharapkan pada satu pilihan sahutan saja, yaitu “aamiin”, dan tidak boleh dengan kata lain yang bersinonim setuju.
D.   Tentang Ko-Teks
Koteks adalah teks yang bersifat sejajar, koordinatif, dan memiliki hubungan dengan teks lainnya, teks satu memiliki hubungan dengan teks lainnya. Teks lain tersebut bisa berada di depan (mendahului) atau di belakang (mengiringi).
Keberadaan koteks dalam suatu struktur wacana menunjukkan bahwa teks tersebut memiliki struktur yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Gejala inilah yang menyebabkan suatu wacana menjadi utuh dan lengkap. Dengan demikian, koteks berfungsi sebagai alat bentu memahami dan menganalisis wacana. Koteks adalah teks yang berhubungan dengan sebuah teks yang lain. Koteks dapat pula berupa unsur teks dalam sebuah teks. Wujud koteks bermacam-macam, dapat berupa kalimat, atau paragraf. Koteks disebut juga sebagai konteks lingusitik.
Contoh penggunaan koteks adalah sebagai berikut.
·         Terimakasih.
·         Jalan pelan-pelan! Banyak anak-anak.
Wacana dua adalah peringatan bagi orang yang akan melewati jalan kampung. Apabila pejalan telah menaatinya misalnya dengan mengurangi laju kendaraanya, maka wacana satu adalah satu ucapan yang diberikan masyarakat setempat kepada pejalan. Salah satu teks tersebut berkedudukan sebagai koteks (teks penjelas) bagi teks lainnya.



















BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Dari pembahasan yang telah dibaca pada bab II maka dapat penulis simpulkan bahwa bahasa merupakan suatu konsep yang luas yang dapat diartikan dari berbagai aspek, seperti dari aspek sifat bahasa ialah alat komunikasi manusia dalam bersosialisasi. Sedangkan Teks adalah bahasa yang berfungsi, maksudnya adalah bahasa yang sedang melaksanakan tugas tertentu (menyampaikan pesan atau informasi) dalam konteks situasi, berlainan dengan kata-kata atau kalimat-kalimat lepas yang mungkin dituliskan di papan tulis. Konteks itu sendiri adalah sesuatu yang menyertai atau yang bersama teks. Secara garis besar, konteks wacana dibedakan atas dua kategori, yakni konteks linguistik dan konteks ekstralinguistik. Koteks adalah teks yang bersifat sejajar, koordinatif, dan memiliki hubungan dengan teks lainnya, teks satu memiliki hubungan dengan teks lainnya. Teks lain tersebut bisa berada di depan (mendahului) atau di belakang (mengiringi).


B.     Saran
Penulis menyarankan agar pembaca dapat mengembangkan dan memahami apa itu bahasa, teks, konteks, dan ko-teks. Sehingga pada akhirnya pembaca dapat menggunakan dan bersosialisasi dengan baik dengan mempertimbangkan teks, konteks, dan ko-teks yang baik itu seperti apa.








DAFTAR PUSTAKA
Chaer, Abdul. 2007. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta
Brown, Gillian dkk. 1996. Analisis Wacana. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
http://mogamigunani.blogspot.com/2009/10/kajian-wacana-teks-koteks-dan-konteks.html











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar